Thursday, September 5, 2013

Sekulerisme, Solusi Dunia Islam?

Tampilnya Barat sebagai pemimpin peradaban dunia dewasa ini, yang ditandai dengan kemajuan pesat mereka dalam bidang teknologi dan ekonomi, telah membius kekaguman para cendekiawan Muslim akan konsep sekulerisme yang menjadi landasan kehidupan berbangsa negara-negara di Eropa. Banyak di antara cendekiawan Muslim tersebut yang mengambil satu konklusi bahwa sekiranya bangsa Barat sanggup mencapai peradaban gemilang dengan berdiri di atas pondasi sekulerisme, tentulah dengan pondasi yang sama pula negara-negara Muslim yang secara umum tengah berada di titik nadir peradaban, sanggup menggapai satu kebangkitan. Kesimpulan demikian seakan kian mendapatkan momentum sebagai sebuah resep jitu yang layak dipasarkan, bila mencermati fakta kegagalan sejumlah kelompok “Islamis” dalam menghantar kebangkitan bagi dunia Islam. Sebut saja Ikhwanul Muslimin yang sempat memegang tampuk kekuasaan di Mesir ternyata hanya mampu bertahan setahun dan masih pula meninggalkan jejak-jejak konflik yang justru nyaris mengantarkan negeri seribu satu menara itu jatuh ke dalam perang saudara. Begitu pula dengan rezim Taliban yang berkuasa lima tahun di Afghanistan, ternyata gagal meninggalkan warisan kejayaan bagi negeri berbalut “selimut debu” tersebut. Sebaliknya, berkuasanya rezim Taliban dalam kurun 1996-2001 justru ditengarai sebagai penyebab kebangkitan ideologi radikalisme di dunia Islam. Alhasil, kian nyaringlah seruan sejumlah pihak agar negara-negara Muslim sepenuhnya menerima konsep sekulerisme sebagai solusi. Namun benarkah bahwa sekulerisme adalah solusi jitu bagi kebangkitan dunia Islam?

Terkait hal ini, penting bagi kita untuk mengulik kembali sejarah lahirnya sekulerisme. Sebagaimana diketahui, bangsa Eropa pada abad pertengahan tengah berada di titik nadir peradaban bebarengan dengan kekuasaan gereja yang mencengkeram segala lini kehidupan mereka. Persekutuan kaum agamawan yang korup dan kaum bangsawan yang otoriter pada akhirnya menghasilkan satu penindasan terhadap rakyat, kemandekan perkembangan sains, dan tatanan sosial masyarakat yang kolot. Setiap upaya para ilmuwan untuk mengembangkan kreasi ilmiah selalu saja mendapatkan tentangan keras dari kalangan gereja lantaran dianggap sebagai satu tindakan meruntuhkan kewibawaan doktrin-doktrin tekstual agama. Di sisi lain, Andalusia yang saat itu berada dalam kekuasaan Islam tengah mencapai puncak kejayaannya. Sebuah ungkapan menarik layak dicermati untuk membandingkan kondisi Andalusia dengan belahan bumi Eropa lainnya pada waktu itu, “di kala malam hari di kota-kota Andalusia sudah terang-benderang, maka kota-kota besar Eropa masih gelap gulita pada malam harinya lantaran adanya satu doktrin bahwa mengubah gelapnya malam menjadi terang merupakan penentangan terhadap hukum Tuhan.” Kegemilangan peradaban Andalusia tak pelak memantik minat ribuan pemuda Kristen Eropa untuk menimba ilmu di berbagai universitas Islam seperti universitas Cordova, Sevilla, Malaga, Granada, dan Salamanca. Demikianlah, hubungan politik, sosial, dan ekonomi antara Andalusia dengan negara-negara Eropa lainnya telah membukakan mata bangsa Eropa kala itu tentang kondisi mereka yang tengah terjerembab ke dalam abad kegelapan. Hasrat masyarakat Eropa beranjak dari abad kegelapan semakin menguat, namun apa daya mereka harus berhadapan dengan tembok otorasi gereja dan absolutisme kerajaan. Maka pada akhirnya lahirlah satu seruan reformasi gereja yang diprakarsai Martin Luther demi mengakhiri kekuasaan kaum agamawan yang pongah. Gerakan “Protestanisme” yang menuntut diakhirinya wewenang gereja dalam pemerintahan pun dengan cepat merambat ke seantero Eropa. Alhasil, dari gerakan tersebut lahirlah satu konsep sekulerisme yang secara tegas memberikan garis batas antara agama dan negara. Sekulerisme telah memenjarakan agama dalam ruang-ruang privasi, serta menafikan adanya hukum Tuhan. Dari sini jelas sudah, bahwa lahirnya sekulerisme adalah sebuah fase penting kebangkitan Eropa dari abad kegelapan menuju era renaissance. Sekulerisme merupakan alat untuk mengebiri dan mengakhiri kekuasaan gereja yang berbuah pada kehancuran peradaban Barat. Dan dengan berakhirnya kekuasaan gereja, maka masuklah bangsa Eropa ke dalam era materialisme yang hampa sepiritualitas.

Kegemilangan peradaban Barat yang digapai dengan pondasi sekulerisme tentu saja bertolak belakang dengan era kejayaan Islam pada masa Nabi sholallohu ‘alaihi wassalam, Khulafaur Rasyidin, dinasti Umayyah, dinasti Abbasiyyah, dan Andalusia yang berdiri di atas nilai-nilai landasan agama dalam segenap lini kehidupan. Maka dari itu, sekiranya kita mampu menelaah secara objektif dalam berbagai perspektif niscaya kita akan sampai pada konklusi bahwa “kejayaan Islam tak dapat dilepaskan dari peran agama dalam negara, sementara kemajuan Barat justru dicapai dengan jalan pemisahan agama dari negara”. Islam dengan landasan tauhidnya terbukti sanggup mengubah bangsa Arab jahiliyah dari satu bangsa yang tak beradab menjadi pusat peradaban dunia. Siapapun pasti berdecak kagum menyaksikan, betapa sebuah bangsa yang tadinya tidak dikenal, terjebak di padang gurun antara dua imperium besar tiba-tiba bangkit menguasai dunia dengan menggenggam kekuasaan yang terbentang luas dari Jazirah Arab hingga Andalusia dalam rentang kurang dari satu abad.

Dengan demikian, terdapat perbedaan mencolok antara lembaran historis dunia Barat yang mengalami traumatis dengan kekuasaan teokrasi ala gereja, dengan konsep negara agama dalam Islam yang justru mewariskan peradaban agung yang bukan hanya dinikmati umat Muslim, melainkan turut pula memberikan sumbangsih bagi bangkitnya renaissance di Eropa. Berkaca dari sejarah panjang tersebut, maka sekulerisme hanya “cocok” diterapkan di dunia Barat yang mengalami pengalaman traumatis dengan kekuasaan gereja, bukan di dunia Islam. Sebaliknya, sekulerisme yang pernah diadopsi Mustafa Kemal Attaturk untuk menggantikan konsep khilafah di Turki, nyatanya gagal menghantarkan republik sekuler Turki bangkit dari keterpurukan. Nyatalah sudah, sekulerisme bukanlah solusi, melainkan “polusi” bagi dunia Islam. Di sinilah kita mesti bersepakat bahwa untuk menggapai kembali kejayaan Islam, tiada jalan kecuali dengan konsep Islam sebagaimana dipahami generasi awal umat ini. Bukan dengan konsep Islam sufistik, Islam demokrasi, Islam radikalis, atau Islam sinkretis yang telah terkontaminasi dengan isme-isme dari luar maupun berbagai pemikiran menyimpang. Beragam upaya kalangan “Islam pergerakan” dewasa ini untuk menegakkan kembali kekuasaan Islam terbukti gagal lantaran landasan, manhaj, dan tujuan mereka bertentangan dengan konsep dakwah sebagaimana dipahami generasi awal umat. Alhamdulillah, pena sejarah telah mencatat kemenangan dakwah tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang berdasarkan pemahaman salafus salih atas kaum kuburiyun hingga berbuah tegaknya Kerajaan Saudi Arabia sebagai satu-satunya negara yang menerapkan hukum Islam di muka bumi saat ini.

Oleh karenanya, penting untuk dicamkan bahwa kejayaan Islam bukanlah semata berarti kembalinya kekuasaan ke tangan kaum Muslimin, atau tercapainya satu kondisi masyarakat Muslim yang melimpah secara ekonomi sebagaimana pemahaman kaum sekuleris dan materialistis, apalagi sekadar kemenangan di ‘bilik suara’ ala politisi. Terpenting, kembalinya kejayaan Islam mesti ditandai dengan kemenangan tauhid atas syrik, sunnah atas bid’ah dan kebenaran atas kebatilan. Adapun tegaknya kekuasaan di tangan kaum Muslimin dan tercapainya tatanan sosial umat Islam yang berlimpah kemakmuran maka itu akan menjadi “buah” dari dakwah yang sama-sama akan dipetik oleh mereka yang istiqomah menegakkannya. Inilah yang mesti direnungkan oleh segenap para aktivis yang mengklaim sebagai ‘pejuang syariat’ atau ‘pejuang khilafah’.


Muhammad karyono

No comments:

Post a Comment