Sunday, September 1, 2013

Ken Arok Sang Putra Girinata

Keharusan perang adalah membunuh sebanyak-banyak musuh. Semakin banyak membunuh musuh semakin banyak bintang tanda jasa. Dalam perang segalanya mendadak  halal.

_____________________

Setelah Tunggul Ametung wafat, kaum pandita yang dipimpin pandita Lohgawe sepakat mendukung Ken Arok sebagai pemimpin Tumapel. Hal itu disetujui pula oleh seluruh keluarga Tumapel, termasuk Ken Dedes.

Naiknya Ken Arok menggantikan Tunggul Ametung tentu saja sebelumnya mendapat restu pihak Panjalu. Tumapel bawahan Panjalu, segala peristiwa penting pasti dikirim pula ke Panjalu. Raja Kertajaya menyetujui pengangkatan Ken Arok karena mendapat jaminan dari Pandita Lohgawe dan para pandita Siwa lainnya di Jenggala.

Pada 1204M Ken Arok mangkir alias tidak menghadiri pisowanan di istana Daha. Sikap itu bikin raja Kertajaya tidak berkenan hati. Ken Arok sebagai pejabat bawahan Panjalu telah mbalela pada sang raja. Hubungan antara Daha dengan Kutaraja memanas. Tetapi Ken Arok telah menyiapkan segala sesuatunya.

Pada 4 April 1204M, Kertajaya mengeluarkan prasasti Sumberingin Kidul.

Ken Arok mulai memimpin Tumapel pada usia 21 tahun. Usia yang mengandung semangat besar menggelora. Usia yang dipenuhi sikap berani menerjang segala apa. Ken Arok adalah penguasa muda yang sedang bercita-cita membangkitkan kembali Jenggala dari puing-puing keruntuhan, dari kungkungan kekuasaan Sri Kertajaya.

Pada awalnya masih berposisi sebagai adipati amancanagara Tumapel. Tetapi setelah cukup dukungan dari para pengikut maupun para pandita Siwa dan Boddha, pada awal 1205M, Ken Arok memisahkan diri dari Panjalu, mengubah Tumapel sebagai kerajaan merdeka, menobatkan diri sebagai raja penerus kejayaan Jenggala dan mengambil gelar abhiseka Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi.

Ken Arok Sang Putra Girinata kini raja Tumapel, beribukota di Kutaraja.

Bendera Jenggala kembali berkibar di timur gunung Kawi!

Beberapa bulan kemudian, masih pada 1205M, Ranggah Rajasa melancarkan serangan pertama ke Panjalu Daha. Raja Kertajaya yang tidak menduga serangan itu terpaksa menyingkir ke selatan sungai Brantas, mendapat perlindungan seluruh penduduk desa Lawadan di selatan Wajak, Tulungagung.

Berkat sokongan perjuangan gigih kekuatan Brang Kidul Lawadan, Raja Kertajaya berhasil menduduki singgasana di istana Daha.

Pasukan Ranggah Rajasa pulang kampung ke Kutaraja Tumapel.

Sebagai balas jasa atas segala pertolongan agung itu, Raja Kertajaya menganugerahkan daerah Lawadan sebagai sima perdikan kerajaan. Anugerah kerajaan Panjalu itu termuat dalam prasasti yang kelak dinamakan Prasasti Lawadan atau Prasasti Wates Kulon bertarik 18 Nopember 1205M Penanggalan prasasti ini kelak menjadi pedoman hari jadi Kabupaten Tulungagung.

Yang menarik perhatian para sejarawan adalah penyebutan nama Kertajaya pada prasasti Lawadan. Menurut Slamet Muljana, oleh karena anugerah tanah perdikan Lawadan itu pada awal prasasti diberikan oleh Sri Maharaja Sarweswara Srengga, boleh dipastikan bahwa raja Sarweswara Srengga adalah sama dengan Sri Maharaja Kertajaya. Jadi memang benar bahwa sejak 1194M, Kertajaya alias Sarweswara Srengga telah memerintah Panjalu Daha. Ketika itu diawal pemerintahannya Kertajaya cepat dihantam kekuatan Jenggala yang dipimpin Sri Maharaja Girindra, ayahnya Ken Arok. Kertajaya menyingkir ke Kamulan, selatan gunung Wilis dan berhasil kembali ke istana Daha setelah kekuatan Kamulan dan Senapati Tunggul Ametung telak melancarkan serbuan balasan ke Kutaraja. Itulah yang menjadi latar belakang keluarnya prasasti Kamulan bertarihk 31 Agustus 1194M, yang kelak menjadi landasan hari jadi kabupaten Trenggalek — kemarin Trenggalek merayakan hari jadinya.

Selamat hari jadi kabupaten Trenggalek! Semoga sehat sentosa jaya, ya…

Meski serbuan pertama gagal menjungkalkan raja Kertajaya, Ranggah Rajasa tidak menghentikan upayanya menaklukkan Panjalu Daha. Sejak 1205M, kekuatan di barat dan di timur gunung Kawi kembali berseteru. Kekuatan Tumapel yang merupakan bentuk baru kerajaan Jenggala bangkit mengemuka berupaya menenggelamkan kejayaan Panjalu Daha. Tumapel mengokohkan kekuatan di timur gunung Kawi, menaklukkan beberapa kerajaan yang dulu pernah menjadi bawahan Jenggala seperti Lumajang, Lewa, Hering atau Pamotan, dan Madura.

Sampai 1210M, kiranya para putra Ranggah Rajasa sudah lahir baik dari permaisuri Ken Dedes maupun selir Ken Umang. Dari permaisuri Ken Dedes, Ranggah Rajasa menurunkan Mahisa Wonga Teleng, Panji Saprang, Guning Bhaya, dan Dewi Rimbi. Sementara dari Ken Umang, Ranggah Rajasa menurunkan Panji Tohjaya, Panji Sudatu, Tuan Wregola, dan Dewi Rimbu.

Selama 17 tahun Panjalu dan Tumapel bersaing menjadi penguasa tunggal tanah Jawa. Keduanya sudah barang tentu kerap melangsungkan pertempuran berupaya saling menaklukkan.

Sementara pada ketika Ranggah Rajasa bertahta di Kutaraja Tumapel, agama Islam sudah lama berkembang di Nusantara, termasuk Jawa. Bukti sejarah keberadaan masyarakat Islam di Jawa muncul pada abad 11. Di Leran, Gresik, ditemukan batu nisan bertuliskan huruf Arab, menerangkan wafatnya Fatimah binti Maimun pada 7 Rajab 475 H atau 2 Desember 1082. Ini membuktikan masyarakat Muslim sudah eksis di Jawatimur pada jaman Panjalu dan Jenggala atau beberapa tahun setelah pembelahan kerajaan Erlangga.

Perkembangan Islam Nusantara juga dapat ditelisik berdasarkan kronik Tiongkok Chu-fan-chi alias catatan Negeri Asing karya Chau Ju-kua, 1225M, mengutip catatan ahli geografi, Chou Ku-fei, 1178M, yang mengabarkan bahwa ada negeri orang Islam yang jaraknya cuma lima hari pelayaran dari Jawa. Sangat mungkin negeri yang dimaksudkan adalah Peureulak. Chu-fan-chi menyatakan pelayaran dari Jawa ke Berune butuh waktu 15 hari. Keberadaan negeri Peureulak juga diperkuat  catatan perjalanan petualang Venesia, Marcopolo, seabad kemudian. Ketika pulang dari Cina melalui laut pada 1291M, Marcopolo singgah di negeri Ferlec yang menganut Islam.

Menurut Chu-fan-chi, negeri Pu-chia-lung atau Panjalu ramai dikunjungi para pedagang Muslim. Ketika menerjemahkan Chu-fan-chi, Friedrich Hirth dan William Woodville Rockhill dalam catatan kaki mengutip hasil penelitian John Crawfurd menerangkan semua mata uang kuno yang ditemukan di pesisir utara Jawatimur tertulis dalam huruf Arab. Kenyataan ini menunjukkan aktivitas kaum pedagang Islam di beberapa pelabuhan Jawatimur.

Boleh dibilang Islam sudah hadir di tanah Jawa dan Nusantara jauh sebelum kedatangan para Walisanga.

Sebagai catatan, dalam abad 12, perdagangan antara Tiongkok dan Panjalu atau tanah Jawa sudah berkembang pesat. Panjalu banyak mengekspor hasil bumi ke Tiongkok. Chou–Ku- Fei menyampaikan kabar gembira: ”Di antara negara-negara asing yang kaya dan memiliki gudang-gudang berisi barang-barang berharga dan berjenis-jenis macamnya, tidak ada yang menandingi negara Ta-shi [Arab], kemudian menyusul Jawa sebagai nomor dua, nomor tiganya San-fo-tsi alias Suwarnabhumi Sumatera, baru yang lain-lainnya”.

Sementara itu para pandita Siwa dan Boddha yang berasal dari daerah Panjalu rupanya lebih mendukung pemerintahan Ranggah Rajasa di Jenggala Kutaraja. Itu disebabkan karena di Kutaraja atau di Tumapel berdiam mahapandita Lohgawe yang memiliki nama besar di tanah Jawa dan juga mahapandita Purwawidada, pandita Boddha Mahayana yang akhirnya mendukung Ken Arok pula.

Pada sekitar 1221M Ken Arok berupaya mendapatkan dukungan kekuatan dari keluarga Tunggul Ametung dan pengikut setianya, menikahkan Anusapati dengan Dewi Rimbi. Pada waktu menikah, Anusapati berusia sekitar 19 tahun sementara Dewi Rimbi berusia sekitar 13 tahun.

Permaisuri Sang Anusapati adalah putri Ken Arok dari Ken Dedes. Ini penyatuan darah Ken Arok, Tunggul Ametung dan Ken Dedes.

Sungguh upaya cerdik.

Siwi Sang mengabarkan bahwa Anusapati adalah putra kewalon sekaligus putra menantu Ken Arok Sang Putra Girinata.

Peristiwa sejarah yang belum dikuak para pakar ilmu sejarah.

Siwi Sang menerapkan jurus Otak Atik Gathuk. Tetapi sesungguhnya upaya ini menggunakan sumber sejarah prasasti Mula Malurung bertarikh 1255M, Kakawin Decawarnana alias Negarakertagama, dan Serat Pararaton.

Memang masih berkemungkinan keliru jika kelak ditemukan sumber sejarah baru. Sejarah selalu bergerak seiring perkembangan ilmu sejarah dan penemuan-penemuan bukti sejarah baru.

Tidak ada tanda titik dalam menafsirkan sejarah.

Tidak ada kebenaran mutlak dalam sejarah.

Adanya cuma mana yang lebih masuk akal.

Tetapi inilah Otak Atik Gathuk Siwi Sang terkait Sang Anusapati, salah satu maharaja perkasa Tumapel Jenggala.

Kakawin Negarakertagama menyebut Anusapati sebagai putra Ranggah Rajasa. Menurut Pararaton, Anusapati putra kandung Tunggul Ametung dari permaisuri Ken Dedes. Kalau dibaca sekilas, memang Prapanca sedang keliru. Tetapi Siwi Sang meyakini bahwa maksud sebenarnya adalah Anusapati merupakan putra kewalon Ranggah Rajasa. Jika berita Negarakertagama ditautkan dengan berita Pararaton, memang menjadi klop.

Persoalannya mengapa Prapanca tidak secara tegas menyebutkan darah Tunggul Ametung dalam kakawin Negarakertagama?  Sebagai catatan, nama Tunggul Ametung secara tegas memang hanya termuat dalam Pararaton.

Tetapi perkara itu sesungguhnya mudah dimaklumi karena pujangga Prapanca sedang membicarakan sejarah Tumapel ketika menjadi kerajaan di bawah kekuasaan Ranggah Rajasa Sang Putra Girinata, bukan Tumapel ketika masih menjadi kadipaten amancanagara di bawah kekuasaan Tunggul Ametung.

Kemudian Siwi Sang juga meyakini bahwa ungkapan Anusapati adalah putra Ranggah Rajasa juga mengandung kebenaran, jika dimaksudkan untuk menyatakan bahwa Anusapati adalah putra menantu Ranggah Rajasa.

Sebagaimana analisa Siwi Sang, pada 1221M, Anusapati menikah dengan Dewi Rimbi, putri bungsu Ranggah Rajasa dari permaisuri Ken Dedes. Pernikahan itu kelak menurunkan Mapanji Seminingrat dan Dewi Seruni.

Kelak Dewi Seruni menjadi permaisuri Sastrajaya —cucu Sri Kertajaya— dan menurunkan Jayakatwang.

Kelak dalam prasasti Mula Malurung bertarikh 1255M, Mapanji Seminingrat mengaku sebagai cucu Batara Siwa, pendiri kerajaan Tumapel yang wafat di Dampar kencana. Batara Siwa adalah gelar anumerta Ranggah Rajasa.

Ungkapan wafat di dampar kencana maksudnya bahwa Ranggah Rajasa pendiri kerajaan Tumapel —bukan kadipaten Tumapel— wafat secara tidak wajar, terbunuh tanpa diketahui siapa dalang dan pelakunya.

Penegasan mapanji Seminingrat dalam prasasti Mula Malurung yang menyebut sebagai cucu Batara Siwa itu mengandung makna bahwa ibu Mapanji Seminingrat atau permaisuri Sri Maharaja Anusapati adalah putri Ranggah Rajasa.

Jika Sri Maharaja Anusapati tidak menjadi menantu Ranggah Rajasa, sangat tidak pantas Mapanji Seminingrat mengaku dengan tegas sebagai cucu Ranggah Rajasa, yang lebih pantas mengaku sebagai cucu Tunggul Ametung, penguasa pertama Tumapel.

Sampai di sini kiranya tidak perlu dipersengketaan lagi terkait berita Negarakertagama yang menyebut Anusapati sebagai putra Ranggah Rajasa.

Sri Maharaja Anusapati adalah putra kewalon sekaligus putra mantu Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi, maharaja pertama kerajaan Tumapel.

Setrategi politik perkawinan yang dilakukan Ranggah Rajasa Sang Putra Girinata berhasil menyatukan dan menggagahkan kekuatan Tumapel Jenggala. Upaya cerdik ini cukup ampuh meredam kekuatan darah Tunggul Ametung, utamanya di daerah Brang Kidul Tulungagung.

Kekuatan Panjalu Daha pimpinan raja Kertajaya rapuh.

Ranggah Rajasa cerdik.

Saatnya Ranggah Rajasa melaju.

Pada 1222M, sebagaimana berita Pararaton, pasukan Siwa dan Boddha pimpinan Ranggah Rajasa bergerak bagai banjir bandang melintasi pegunungan Kawi, menyeberangi sungai Leksa, melintasi lembah gunung Kelud berderap di utara sungai Brantas dan di padang Ganter atau sekarang kecamatan Nganteru, Tulungagung, bertemu pasukan Panjalu Daha yang menganut Wisnu.

Kekuatan Siwa dan Boddha bersatu hantam kekuatan Wisnu.

Dahsat!

Dua kubu saling menaklukkan.

Tanah Jawa bergetar.

Apa perang menjadi keharusan?

Keharusan perang adalah membunuh sebanyak-banyak musuh. Semakin banyak membunuh musuh semakin banyak bintang tanda jasa. Dalam perang segalanya mendadak  halal.

Sementara membunuh dalam masa damai bakal kepancung hukum negara.

Bahkan konon semut rayap juga patut dilindungi.

Siwi S

No comments:

Post a Comment